
Heboh! Profesor Senior Bongkar Rahasia Besar Filsafat Ilmu di Undiknas
Sinergi Akademik Tingkat Tinggi dalam Kuliah Umum Multi Paradigma
Dunia pendidikan tinggi di Pulau Dewata baru saja dikejutkan oleh sebuah perhelatan akademik yang sangat berkelas dan dipenuhi oleh para pemikir hebat. Prof. Dr. Made Sudarma, SE., Ak., MM. memberikan kuliah umum di Undiknas dengan mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen dan dimoderatori oleh Prof. Luh Putu Mahyuni, Ph.D., CMA., CSP. Kehadiran profesor senior asal Universitas Brawijaya ini langsung mendatangkan antusiasme yang luar biasa dari seluruh civitas akademika yang memadati ruangan sejak pagi hari. Acara yang berlangsung sakral dan penuh dengan dialektika ilmiah ini disambut hangat oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas ibu Dr. Desak Made Febri Purnama Sari, S.E., M.M. di Theater Room pada tanggal 5 juni 2026 dan didampingi oleh Wakil Rektor bidang Kerja Sama Undiknas, bapak Dr. Drs. I Nyoman Subanda , M.Si . Momentum langka ini menjadi bukti nyata bahwa transfer pengetahuan dari pakar lintas institusi sangat krusial dalam mencetak lulusan tingkat doktoral yang berkualitas global. Seluruh peserta yang hadir tampak begitu terkesima mendengarkan setiap pemaparan yang disampaikan secara lugas dan komprehensif oleh Prof. Made.

Membedah Hakikat Ilmu dan Pentingnya Pendekatan Multi Paradigma
Memasuki inti acara, materi yang dibawakan oleh Prof. Made berfokus pada tema besar mengenai “Filsafat Ilmu dan Metodologi Riset Multi Paradigma“. Beliau menegaskan secara mendalam di hadapan audiens FEB Undiknas bahwa filsafat ilmu sejatinya bertujuan untuk memahami sifat dasar ilmu, proses memperolehnya, hingga penerapannya demi memahami dunia. Pemaparan materi ini terasa semakin berbobot ketika beliau mulai membedah tiga pilar utama filsafat, yakni aspek ontologi, epistemologi, serta aksiologi secara gamblang. Di tengah diskusi yang hangat di #kampusterbaikBali ini, beliau mengajak mahasiswa program doktor untuk mampu berpikir lebih kritis serta reflektif dalam mengambil keputusan strategis. Langkah awal riset yang matang dinilai sangat bergantung pada bagaimana seorang peneliti memahami keterkaitan mendasar antara filsafat, pengetahuan, ilmu, dan bahkan aspek agama. Melalui pemahaman yang komprehensif ini, diharapkan riset manajemen yang dihasilkan tidak sekadar menjadi tumpukan kertas, melainkan instrumen perubahan sosial yang berdampak nyata.

Menyelami Perbedaan Pengetahuan Biasa Versus Pengetahuan Ilmu
Salah satu poin paling menarik yang dikupas tuntas dalam kuliah umum di kampus internasional ini adalah pemisahan esensial antara pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmu. Prof. Made Sudarma menjelaskan bahwa pengetahuan biasa atau common sense kerap kali didapatkan dari keseharian secara bebas tanpa jaminan kebenaran yang faktual. Sebaliknya, sebuah pengetahuan baru bisa naik kelas menjadi pengetahuan ilmu apabila ia telah melalui proses pengorganisasian secara sistematis dan berbasis pada fakta empiris. Pembahasan ilmiah ini juga menguraikan pandangan dari Burrell dan Morgan mengenai empat asumsi penting dalam ilmu sosial, meliputi ontologi, epistemologi, sifat manusia, serta metodologi. Mahasiswa doktoral pun diajak menyelami ragam paradigma besar dalam khasanah epistemologi, mulai dari paradigma fungsionalis, interpretif, hingga humanis radikal dan strukturalis radikal. Kuliah umum ini akhirnya ditutup dengan sebuah refleksi mendalam bahwa tujuan hakiki dari ilmu pengetahuan adalah untuk menghadirkan kedamaian, kebahagiaan, serta harmoni bagi peradaban manusia.

Tag:Berita Kampus Bali, FEB Undiknas, Kampus Bali, Kampus Berdampak, kampus Indonesia, Kampus Internasional, Kampus Masa Kini, Kampus Milenial, Kampus Terbaik Bali, Kampus Unggul, Kampus Unggul Bali, Kampus Unggul Masa Kini, Kampus-Milenial-Bali, Kuliah Umum di Undiknas Prof Made Sudarma, Program Doktor Ilmu Manajemen, Research, SDGs, Student, Undiknas Kampus Berdampak, Undiknas Kampus Milenial Bali, Undiknas Kampus Terbaik, Undiknas Kampus Unggul, Universitas Pendidikan Nasional, Updates



