
Bimtek PUG Perempuan Potensial Undiknas Diikuti 360 Peserta
Denpasar – Auditorium Dwi Tunggal Undiknas Denpasar dipenuhi semangat perempuan lintas generasi pada Rabu, 7 Oktober 2026. Pada hari itu, Bimtek PUG Perempuan Potensial bertema Peningkatan Kepemimpinan dan Kesejahteraan Perempuan (KPP) resmi digelar di Provinsi Bali. Kegiatan ini mengusung slogan “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju”. Selain itu, sebanyak 360 peserta dari berbagai generasi hadir dengan antusias. Acara ini merupakan kolaborasi Kementerian PPPA, Undiknas Denpasar, dan Dinas PPPA Provinsi Bali. Pesan utamanya jelas, yaitu perempuan bukan sekadar penerima manfaat pembangunan. Sebaliknya, perempuan adalah kekuatan penting yang ikut menentukan arah masa depan. Lalu, apa saja pesan menarik dari kegiatan ini?
Dibuka Langsung Pejabat Kementerian PPPA
Kegiatan resmi dibuka oleh Asisten Deputi Bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Wilayah III Kementerian PPPA RI, Dr. Dra. Dewa Ayu Laksmiadi Janapriati, M.Par. Di samping itu, hadir Staf Khusus Menteri PPPA Bidang Perempuan dan Politik, Nia Sjarifudin. Dari Undiknas, hadir Vice Rector for Human Resources and Finance, Dr. AAA. Ngurah Sri Rahayu Gorda, S.H., M.M., M.H., CCD., C.Med. Kepala UPTD PPPA Provinsi Bali, Luh Made Srianingsih, hadir mewakili Kepala Dinas PPPA. Selanjutnya, Ketua Pusat Studi Undiknas Dr. AAA. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H., CCD dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Dr. Putu Dyah Permatha Korry SE.,MM. turut mendukung acara. Dalam sambutannya, Laksmiadi mengapresiasi kolaborasi Undiknas dan Pemprov Bali. Menurutnya, pemberdayaan perempuan tidak bisa dibebankan pada satu instansi saja. Oleh karena itu, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas perempuan perlu bergerak bersama.
Pemimpin Perempuan Tak Harus Punya Jabatan Formal
Salah satu pesan yang paling menarik adalah makna kepemimpinan perempuan. Menurut Laksmiadi, kepemimpinan tidak diukur dari jabatan formal semata. Sebaliknya, perempuan layak disebut pemimpin ketika mampu menggerakkan masyarakat dan mengembangkan usaha. Selain itu, ia menilai pemimpin perempuan memperjuangkan kepentingan kelompoknya dan menyelesaikan persoalan di lingkungannya. Ia juga menyebut perempuan Bali sejak dahulu dikenal giat bekerja dan berkontribusi. Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya peran laki-laki lewat semangat HeForShe. Dengan dukungan tersebut, pengasuhan keluarga, kesejahteraan, dan akses pendidikan dapat meningkat. Bahkan, kolaborasi ini penting untuk mencegah pekerja anak, perkawinan anak, dan kekerasan terhadap perempuan.
Empat Materi Utama, dari Ekonomi hingga Kesehatan Reproduksi
Bimtek ini menghadirkan empat narasumber dengan keahlian berbeda. Pertama, Dr. Putu Dyah Permata Korry membawakan materi Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Kedua, Nia Sjarifudin menyampaikan materi Politik dan Partisipasi Perempuan. Ketiga, Prof. Dr. Ni Luh Made Mahendrawati membahas materi Kepemimpinan Perempuan. Terakhir, Dewa Ayu Mirah Ardrini mengisi materi Gender dan Kesehatan Reproduksi. Moderator Anak Agung Mia Intentilia memandu diskusi agar tetap interaktif dan terarah. Selain itu, peserta bebas bertanya dan berbagi pengalaman dari lingkungan masing-masing. Dengan demikian, kesetaraan gender dibahas secara utuh, mulai dari ekonomi, politik, kepemimpinan, hingga kesehatan.
Suara dari Narasumber: Berani Bersuara dan Mandiri
Para narasumber membawa pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Nia Sjarifudin menegaskan bahwa perempuan terbiasa mengambil keputusan, misalnya soal keuangan dan pengasuhan anak. Karena itu, perempuan perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan pembangunan. Ia juga mengingatkan bahwa kehadiran di forum seperti Musrenbang harus disertai kesempatan bersuara. Sementara itu, Dr. Putu Dyah Permata Korry mengajak perempuan memaknai keberdayaan lebih luas daripada penghasilan. Menurutnya, keberdayaan berarti mampu mengakses waktu, mengembangkan potensi, dan mengendalikan diri sendiri. Adapun Prof. Mahendrawati menilai pemimpin perempuan sukses ketika mampu memberdayakan orang di sekitarnya. Di samping itu, Dewa Ayu Mirah Ardrini mendorong adanya perempuan penggerak di komunitas untuk menyuarakan kebutuhan layanan kesehatan. Ia juga mengingatkan generasi muda agar menjaga kesehatan reproduksi dan mental.
Komitmen Pemprov Bali dan Gagasan Kelas Perempuan Undiknas
Dalam sambutan Kepala Dinas PPPA Bali yang dibacakan Luh Made Srianingsih, komitmen kesetaraan gender kembali ditegaskan. Komitmen itu diwujudkan melalui Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pengarusutamaan Gender. Selanjutnya, aturan tersebut diperkuat dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 20 Tahun 2025. Selain itu, Pemprov Bali mendorong program Akademi Perempuan Bali. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas perempuan di bidang politik, kepemimpinan, kewirausahaan, parenting, dan kesehatan mental. Oleh karena itu, setiap perangkat daerah diharapkan menyusun rencana tindak lanjut yang konkret. Dengan demikian, PUG benar-benar terintegrasi dalam program pembangunan.
Dari sisi kampus, Gung Tini Gorda memaparkan gagasan Kelas Perempuan sebagai program pendidikan perguruan tinggi. Gagasan ini sebelumnya telah dikembangkan di STIE Satya Dharma Singaraja. Selanjutnya, Undiknas berencana menghadirkan Kelas Perempuan khusus bidang politik. Melalui kelas tersebut, perempuan diharapkan lebih berani mengambil keputusan dan berperan di ruang publik. Menurutnya, tujuan akhir pemberdayaan adalah kemandirian ekonomi. Dengan kemandirian itu, perempuan bebas menentukan masa depannya sendiri. Oleh sebab itu, pendidikan dipandang sebagai jalan penting menuju kesetaraan.
Kampus Terbaik Bali yang Hadir untuk Pemberdayaan Perempuan
Vice Rector Undiknas, Dr. Anak Agung Ayu Ngurah Sri Rahayu Gorda, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar slogan. Selain itu, ia mendorong penguatan inklusi keuangan, literasi digital, dan kewirausahaan bagi perempuan. Sikap ini mempertegas citra Undiknas sebagai kampus terbaik Bali yang peduli pada isu sosial. Selain itu, dengan semangat sebagai kampus internasional, Undiknas membawa perspektif kesetaraan gender yang sejalan dengan praktik global. Bimtek bersama kementerian dan pemerintah daerah ini menjadi contoh nyata kolaborasi berdampak. Dengan sinergi lintas lembaga, manfaat program pun menjangkau lebih banyak orang. Inilah wujud komitmen sebagai Kampus Berdampak, yaitu kampus yang kehadirannya dirasakan masyarakat.
Peserta Pulang Lebih Percaya Diri
Bimtek ditutup dengan doorprize bagi lima peserta paling aktif. Masing-masing pemenang menerima satu karung beras lima kilogram dari Laksmiadi. Para peserta mengaku senang dan lebih berani tampil sebagai pemimpin. Misalnya, Ni Luh Putu Sukariyati menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama. Sementara itu, Sita berharap bimtek ini membuka keberanian perempuan menyampaikan aspirasi. Selain itu, para peserta menekankan pentingnya berani melapor ketika mengalami kekerasan. Pada akhirnya, slogan “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju” menjadi semangat nyata, bukan sekadar kata-kata. Sebab, mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan ekosistem yang memberi ruang setara bagi perempuan untuk memimpin.



