
UKM Public Speaking UNDIKNAS Latih Mahasiswa Kuasai Panggung di Era Kecerdasan Buatan
Denpasar, 26 September 2026 – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Public Speaking Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS) menyelenggarakan Public Speaking Workshop 2026 bertajuk “Speak Up in the AI Era: Master Your Voice, Own Your Future”. Acara ini digelar di Auditorium Dwi Tunggal UNDIKNAS dan diikuti oleh 83 peserta, terdiri dari 78 peserta internal dan 5 peserta eksternal. Workshop ini dibuka dan diberikan sambutan secara resmi mewakili Vice Rector for Student Affairs and Alumni UNDIKNAS oleh Bapak Gusi Putu Lestara Permana, SE., M.Acc., AK., selaku Head of Student Club and Activity Center UNDIKNAS. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya mahasiswa memiliki kemampuan komunikasi yang kuat sebagai bekal menghadapi tantangan di era teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), yang semakin masif digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Acara dipandu oleh anggota aktif fungsionaris UKM Public Speaking, Komang Dini Ladia Dwiya Vrakashevia selaku moderator, yang mengawal jalannya diskusi antara peserta dan narasumber secara dinamis dan interaktif. Turut hadir dalam acara ini Pembina 1 UKM Public Speaking UNDIKNAS, Dr. Nuning Indah Pratiwi, S.Sos., M.I.Kom., C.Med, bersama Pembina 2, Dr. Ni Luh Yulyana Dewi, S.I.Kom., M.A.P. Acara ini juga dihadiri oleh kakak-kakak Dewan Pembina serta Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UNDIKNAS.

Menghadirkan Dua Narasumber Ahli
Narasumber pertama adalah The Palbis, duo MC asal Bali yang telah aktif sebagai pembawa acara dan pengisi acara di berbagai event sejak 2013. Selain dikenal lewat gaya membawakan acara yang jenaka dan khas, The Palbis juga memperluas jangkauan lewat aktivitas lain seperti DJ set serta siniar (podcast) mereka, Palstation. Dalam workshop ini, The Palbis membagikan perspektifnya mengenai komunikasi efektif, khususnya dari pengalaman panjang mereka sebagai partner MC. Narasumber kedua, Ibu Ida Ayu Fortuna Ningrum, S.Pd., M.Pd., membawakan materi mendalam mengenai filosofi berbicara. Beliau merupakan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UNDIKNAS dengan bidang keahlian mencakup pengajaran bahasa Inggris dan pengembangan media belajar. Dalam paparannya, Ibu Fortuna menyampaikan bahwa berbicara bukan sekadar mengeluarkan suara, melainkan menyampaikan pesan yang layak didengar. Kedua narasumber sepakat bahwa keaslian diri (authenticity) menjadi kunci penting dalam public speaking. The Palbis, misalnya, menekankan bahwa mengikuti tren atau kalimat template yang sudah umum digunakan MC lain justru membuat seorang pembicara kehilangan ciri khasnya sendiri.
“AI itu boleh bantu kita cari ide, tapi begitu naik panggung, yang didengar orang ya suara kita sendiri, bukan suara template. Keaslian itu yang bikin orang inget sama kita,” ujar The Palbis
Sementara itu, Ibu Fortuna mengingatkan bahwa public speaking sesungguhnya telah dimulai sebelum kata-kata diucapkan, yaitu sejak seseorang mulai berpikir tentang apa yang ingin disampaikan dan mengapa pesan tersebut penting.
“Berbicara itu bukan soal seberapa keras atau seberapa lancar suara kita keluar, tapi apakah pesan yang kita sampaikan layak untuk didengar. Sebelum bicara, kita harus tahu dulu apa yang ingin kita sampaikan dan kenapa itu penting,” jelas Ibu Fortuna
AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Kemampuan Manusia
Kedua narasumber sepakat bahwa di era sekarang, AI menjadi alat yang membantu mahasiswa dalam mencari informasi, menyusun pertanyaan, hingga menghasilkan narasi secara cepat. Namun, penggunaan AI yang berlebihan berisiko membuat penggunanya terlalu bergantung dan kurang melatih kemampuan berpikir kritis secara mandiri. The Palbis menegaskan bahwa AI hanyalah sarana pendukung untuk menemukan ide baru, namun eksekusi ide tersebut tetap harus dilakukan sesuai kreativitas masing-masing individu. Senada dengan itu, Ibu Fortuna menyampaikan bahwa meskipun AI mampu menghasilkan kata-kata, manusia tetap memegang peran penting dalam memberikan makna, pengalaman, pemikiran, dan nilai di balik kata-kata tersebut. Dalam konteks public speaking, seorang MC atau pembicara tidak hanya bertugas membaca teks, tetapi juga harus memahami isi pesan, menyesuaikannya dengan audiens, serta menampilkan karakter dan keaslian dirinya. Oleh karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia dalam berkomunikasi. Melalui sesi diskusi, peserta diajak memahami bahwa menguasai materi tidaklah sama dengan menguasai pesan, serta pentingnya berpikir kritis sebelum memutuskan untuk berbicara di depan publik.

Rangkaian Acara: Pemaparan Materi Diikuti Sesi Praktik
Workshop ini dirancang dalam dua tahap. Pada tahap pertama, kedua narasumber menyampaikan pemaparan materi secara mendalam mengenai komunikasi efektif dan filosofi berbicara, termasuk bagaimana memposisikan AI secara bijak dalam proses berpikir dan menyampaikan pesan. Setelah sesi materi, peserta diajak masuk ke tahap kedua, yaitu sesi praktik langsung, yang bertujuan mengajak peserta turut melatih diri menerapkan apa yang telah dipelajari — mulai dari cara menyampaikan pesan dengan percaya diri, menyesuaikan gaya bicara dengan audiens, hingga membangun keaslian diri saat tampil di depan publik. Pendekatan pemaparan materi yang diikuti langsung dengan praktik ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami konsep public speaking secara teoretis, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengasah keberanian dan kemampuannya secara nyata, sehingga materi yang disampaikan lebih mudah diingat dan diterapkan di kemudian hari.
BACA JUGA: Mahasiswa FISHUM Undiknas Raih Juara 1 QRIS Jelajah Indonesia Bank Indonesia di Jakarta
Komitmen UKM Public Speaking UNDIKNAS
Ketua Panitia acara, Anak Agung Ngurah Alit Adi Yamunasuta, menyampaikan bahwa workshop ini merupakan wujud komitmen UKM Public Speaking UNDIKNAS dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Workshop ini sebaiknya diadakan setiap tahun, karena banyak mahasiswa baru melihat masa perkuliahan sebagai awal yang baru untuk mengembangkan diri, terutama dalam kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kesadaran dan kepercayaan diri peserta dalam mengasah kemampuan public speaking, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia kerja nantinya. 




