Undiknas University Kini miliki Dosen Asing

06 March 2018. 15:55

Setelah mempunyai mahasiswa  asing dan kelas internasional, kini Undiknas memiliki seorang  dosen asing dari Bucharest, Rumania.  Ia adalah Robert-Vasile Moisa.,M.Sc.  (Master in Communication Science).  Robert-Vasile Moisa juga diberikan hadiah buku baru oleh Rektor Undiknas Prof. Gede Sri Darma, DBA. saat acara Wisuda dan Dies Natalis ke-49  Undiknas, Sabtu (18/2) lalu.

Rektor Undiknas berharap kehadiran dosen asing ini mampu memberi  vibrasi positif bagi penciptaan atmosfer  akademik berwawasan global. Tidak hanya untuk mahasiswa tetapi juga buat para dosen.

Masih terkait dengan dosen, Prof. Gede Sri Darma mengucapkan rasa terima kasih karena tahun ini 13 orang dosen Undiknas berhasil merebut hibah penelitian Direktorat Riset  dan Pengabdian Masyarakat Kemenristek Dikti. Selain itu, 10 dosennya  mendapatkan hibah penelitian dosen  pemula,  hibah disertasi doktor dan hibah penelitian strategis nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan tentang tuntutan baru tugas dosen yang terus mengalami perubahan. Hal ini terkait The World Economic Forum (WEF) atau Forum Ekonomi Dunia yang baru-baru ini menerbitkan  laporan bahwa ada 10 kemampuan utama yang dibutuhkan  dalam  memenangkan persaingan di dunia kerja yaitu (1) kemampuan memecahkan masalah, (2) berpikir kritis, (3) kreativitas, (4) manajeman, (5) berkoordinasi dan bekerja sama dengan orang lain, (6) keseimbangan kecerdasan emosional (EQ), (7)  menganalisis dan mengambil keputusan,  (8) memberikan pelayanan, (9) bernegosiasi dan (10) fleksibilitas dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi. ‘’Ini merupakan sinyal bahwa karakteristik pendidikan juga harus berubah,’’ tegas Prof. Gede Sri Darma.

Dikatakannya, peran sekolah dan perguruan tinggi akan menjadi sangat berbeda di masa depan. Pendidikan tidak lagi hanya memberikan pengajaran tentang pengetahuan secara teori, namun harus disesuaikan  dengan cara-cara yang baru dan lebih  inovatif. Inilah yang disebut dengan  customized  curriculum. Kurikulum dan sistem pembelajaran tidak bisa lagi diterapkan secara massal, namun harus dikustomisasi sesuai kebutuhan dan keinginan setiap individu.

Kedua, berkembangnya era Education 4.0 yang menuntut pengembangan  potensi secara menyeluruh  dan terintegrasi untuk menghasilkan  individu yang seimbang dan harmonis secara fisik, intelektual, spiritual, serta emosial. Ada sembilan hal yang perlu dilakukan dalam  mengubah  paradigma pendidikan menuju tahapan Education 4.0 yakni (1) PBM tidak hanya berlangsung  di dalam kelas, bisa dengan dukungan teknologi e-learning, (2) adanya personalisasi pembelajaran, (3) kebebasan untuk memilih mata kuliah yang ingin dipelajari dikenal dengan sebutan BYOD (Bring Your Own Device), (4) pembelajaran berbasis pada project, (5) memberikan  kesempatan untuk langsung belajar  di dunia nyata, (6) menginterpretasikan data melalui analisas statistik  dalam  mengambil keputusan, (7) sistem ujian menekankan proses pembelajaran, (8) adanya keterlibatan  siswa atau mahasiswa dalam merancang kurikulum dan (9) pentingnya pendampingan oleh guru atau dosen.

Semua hal tersebut menjadi tantangan yang menarik bagi dunia pendidikan. Proses pembelajaran Education 4.0 ini akan menjadi wajah baru dalam dunia pendidikan kita. ‘’Tentunya tak semudah membalikkan  telapak tangan,’’ sebut Prof. Gede Sri Darma. 

Sumber : Balipost.com