Undiknas Realisasikan Kerja Sama dengan Murdoch University Segera Kirim Lima Dosen Kuliah S-3

23 March 2018. 16:00

UNDIKNAS University tak mau eksis biasa-biasa saja. me­lainkan tampil berkualitas secara berkelanjutan yang disebut Un­diknas Baru. Untuk itu, Undiknas University merealisasikan kerja sama dengan Murdoch Univer­sity, Perth. Australia.

Detail kerja sama diteken Senin (12/3) kemarin oleh Dean of Graduate Studies Murdoch University Prof. Neal Enright dan Rektor Undiknas Prof Gede Sri Darma, DBA., di kampus Un­diknas. Penandatanganan kerja sama disaksikan para direktur di lingkungan Undiknas. Kunjun­gan Neal Enright ini juga balasan atas kunjungan Rektor Undiknas bersama mahasiswa ke Murdoch beberapa bulan lalu.

Prof Gede Sri Darma menjelas­kan, realisasi kerja sama Undik­nas dengan Murdoch ini dipa­yungi oleh MoU Undiknas dengan Murdoch yang diteken kedua rektor sebelumnya. MoU itu kini direalisasikan dalam bentuk studi lanjut S-3 dosen Undiknas ke Murdoch University. Para dosen Undiknas diberiakan kemu­dahan oleh Murdoch University karena selama ini mereka sulit mendapatkan beasiswa untuk studi lanjut S-3 ke luar negeri.

Sri Darma mengatakan, Mur­doch University adalah salah satu kampus yang sudah menjalin kerja sama dengan Kemenristek Dikti sebagai tempat studi lanjut S-3. Kerja sama ini di bawah naungan LPDP-Budi Dikti yang membiayai program dosen studi S-5 ke luar negeri.

Prof. Niel mengungkapkan, Murdoch Universiry siap me­nerima dosen Indonesia yang kuliah S-5 untuk program apa saja. Pihaknya merasa senang dan bangga bisa bekerja sama dengan Undiknas.

Menurut Rektor Undiknas, dalam waktu dekat mi Undiknas mengirim lima dosen muda studi S-3 ke Murdoch. Mereka sudah din­yatakan lulus segala persyaratan oleh LPDP Dikti untuk mendapat­kan beasiswa S-3 di Murdoch University. Semua langkah ini guna memperkuat posisi Undiknas bukan saja mencerdaskan anak bangsa, namun juga anak bangsa di dunia. Undiknas yakin ke depan warga Australia datang ke Bali untuk berlibur sambil belajar atau belajar sambil berlibur.

Kepada tamunya. Prof. Sri Darma menekankan bahwa Un­diknas tak mau sekadar memiliki dosen berkualifikasi S-3, melain­kan yang berkualitas. Jika hanya mencetak S-3 ia khawatir sebuah perguruan tinggi akan diting­gal oleh masyarakat kemudian hancur. Pihaknya berkomitmen menjadikan Undiknas kampus dengan nama besar karena kuali­tasnya. Ini yang disebutnya den­gan era Undiknas Baru.

Pernyataan Prof. Sri Darma ini bukan tanpa alasan, Undiknas menargetkan menduduki posisi 50 besar kampus terbaik di Indo­nesia. Para dosennya wajib S-3 di luar negeri sekaligus membangun networking. Kerja sama ini akan diikuti dengan pertukaran company visit, mendatangkan dosen tamu dari Murdoch dan kerja sama dalam penelitian bersama. Saat ini dan 149 dosen di Un­diknas, 20 orang sudah doktor. Undiknas memiliki kontrak kerja dengan para dosen untuk meny­elesaikan studi S-5 di luar negeri.

Untuk menjadi kampus mandiri dan ke depan tak lagi mengandalkan biaya dan maha­siswa, Undiknas sudah memiliki sejumlah perusahaan guna mem­bantu biaya operasional kampus. Ada PT Madu (Manajemen Dwi Tunggal Undiknas) yang bergerak dalam bidang penelitian, manaje­men, memberi pelatihan perpaja­kan dan "menjual” pengetahuan lainnya. Undiknas juga mempu­nyai Retail and Proferty. Dengan demikian fungsi rektor kian fokus menentukan posisi ordinat yang membawa kemajuan.

Sumber : Balipost.com