Undiknas Denpasar Mengadakan Seminar Internasional Demi Tercapainya Sumber Daya Air Yang Berkelanjutan

10 September 2016. 02:04

Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar telah melaksanakan seminar internasional pada tanggal 5 September 2016 yang bertemakan “Towards Sustainability in The Water Resource Engineering” yang diadakan di Auditorium Undiknas Denpasar. Sebagai narasumber adalah Prof. Aysha Akter, BSc, MEng, PhD dari Chittagong University of Engineering and Technology (CUET) Bangladesh. Seminar ini dibuka oleh Direktur Akademik dan Sistem Informasi (AKSI) Undiknas Denpasar, Luh Putu Mahyuni, PhD., CA dan sebagai moderator adalah Ir. Agus Putu Abiyasa, BEng, PhD, IPM dari Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) Undiknas Denpasar. Seminar ini dihadiri 200 peserta dari seluruh Bali yang terdiri dari undangan instansi pemerintah, swasta, dosen serta mahasiswa.

Dalam sambutannya, Direktur AKSI menyampaikan bahwa pembangunan ekonomi, khususnya pariwisata untuk wilayah Bali perlu memperhatikan kelestarian lingkungan alam. Dibutuhkan pengaturan yang lebih baik dalam hal pemanfaatan ruang sepanjang pesisir pantai, sempadan sungai dan daerah tangkapan hujan untuk menjamin keberlangsungan sumber daya air bagi Bali dalam jangka panjang.

Seminar dengan pembicara tunggal ini berlangsung dinamis dimana Prof. Aysha Akter menyampaikan presentasinya tentang teknik pengelolaan sumber daya air. Dalam pembahasannya,  Prof. Aysha Akter menyampaikan beberapa topik, antara lain: (1) keberlanjutan sumber daya air dan tantangan-tantangannya, (2) isu-isu lokal di negaranya dan asia pada umumnya, serta solusi sekarang dan kedepannya, (3) Ia juga menyampaikan penelitian yang telah dipelajari di Indonesia dan Bali pada khususnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Aysha Akter memulai dengan menekankan bahwa secara global kita sedang mengalami krisis lingkungan, ekonomi dan sistem sosial atau diistilahkan trilemma. Krisis lingkungan dimana dunia sedang mengalami pemanasan global, perusakan hutan dan lapisan ozon, polusi, dan lain-lain. Krisis ekonomi dimana dunia juga kekurangan makanan, energi, air bersih. Krisis sistem sosial dimana tumbuhnya lingkungan kumuh, wabah penyakit karena bencana air.

Kemudian diceritakan juga situasi di Banglades tentang kondisi sungai – sungai yang sudah memprihatinkan karena mengalami erosi yang cukup parah. Hal ini mengakibatkan penduduk terpaksa mengungsi jauh dari daerah pinggir sungai yang rawan longsor. Prof. Aysha juga memaparkan penelitiannya untuk mengatasi masalah ini dengan menggunakan metode geobag revetment. Kemudian juga dipaparkan tentang masalah water logging atau pemampatan air yang mengakibatkan kadar garam air naik atau salinitas, banjir, dan langkanya sumber air bersih. Untuk mengatasi ini, di Banglades telah dikembangkan teknik rainwater harvesting atau tadah hujan melalui sistem rooftop dan underground.  Dalam pemaparan masalah di Banglades, Prof. Aysha menyatakan bahwa perlu adanya kebijakan dari pemerintah dalam penerapan teknik tadah hujan untuk mengatasi krisis air bersih.

Dalam makalahnya juga disinggung kerjasama dalam bidang penelitian di Indonesia seperti di Gili Trawangan, Lombok. Khusus di Bali, kerjasama penelitian juga dilakukan di Pengambengan, Bali Utara. Dalam sesi tanya jawab, para peserta juga turut aktif mengajukan beberapa pertanyaan. Salah satu peserta menanyakan kemungkinan pengaplikasian metode geobag revetment untuk mengatasi erosi sungai dan laut di wilayah Bali.  Dari seminar internasional singkat ini dapat diambil kesimpulan bahwa sumber daya air harus kita jaga demi kelangsungan hidup generasi di masa depan.