Seminar Kemenlu di Undiknas Kekuatan Diplomasi RI Tergantung Politik LN

21 February 2017. 11:00

Setelah merayakan Dies Natalis ke-48, Undiknas University bekerja sama dengan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan  Kawasan Amerika dan Eropa, Badan  Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kementerian Luar  Negeri, menggelar seminar nasional,  Sabtu (18/2). Seminar mengambil  tajuk  ‘’Dinamika Ekonomi-Politik Global dan Proyeksi Polugri Indonesia 2017’’. 

Seminar di Auditorium Dwi Tunggal  Undiknas menghadirkan pembicara  Dr. Ni Wayan Widhiasthini, S.Sos., M.Si. serta Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kemenlu RI Dr. Siswo Pramono, LL.M. Seminar yang diikuti 300 mahasiswa dan dosen Undiknas dan perguruan tinggi lainnya  di Bali ini berlangsung menarik karena sejumlah masalah mengemuka  seperti kasus pulau sengketa, daya  saing perdagangan RI, naker asing,  bebas visa dan hasil penelitian.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan  Ilmu Politik (FISIP) Undiknas Dr. I  Nyoman Subanda, M.Si. saat membuka seminar menekankan seminar  ini merupakan bagian dari implementasi  Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kalangan akademis wajib memberikan sumbangsih kepada negara dalam bentuk kajian akademik dalam  hubungan  luar negeri. Apalagi di Bali, katanya, banyak aspek kehidupan  luar negeri terjadi di sini baik dari segi hubungan ekonomi maupun sosial dan lain-lain. Letak geografisnya juga dekat dengan Timor Leste  dan Australia, serta permasalahan  sosial lainnya seperti keimigrasian  dan kenakalan orang asing.

Bagi Undiknas, kerja sama dengan Kemenlu ini bisa dipakai kesempatan untuk magang dan PKL tidak hanya di Bali, namun juga di luar Bali.  Sementara di sisi lain Kemenlu memerlukan kajian ilmiah modern dari kalangan perguruan tinggi.

Siswo Pramono menyampaikan presentasi ‘’Measuring Economic Cooperation in Indian Ocean Rim: An Illustrated Sketch about Regional Architecture’’. Ia menekankan pentingnya Indian Ocean Rim Association  (IORA) serta dinamika yang terjadi  di dalamnya bagi kebijakan politik  luar  negeri Indonesia. IORA merupakan organisasi regional di wilayah  Samudera Hindia yang bertujuan  memajukan perekonomian.

Kepala BPPK juga menyinggung  mengenai  lebarnya kesenjangan ekonomi antara negara anggota IORA. Solusinya, dengan memacu inovasi dan daya saing dalam perdagangan internasional. Hasil penelitian  mahasiswa harus bisa diaplikasikan  agar tidak bias dari segi sains. Jika  menciptakan produk  inovasi baru harus bisa diukur. Seperti membuat alat dengan energi dari angin, namun ketika diterapkan harganya sangat mahal dan tak bisa dibeli masyarakat.

Soal pulau RI dalam sengketa, ia menegaskan jika dalam sengketa berarti pulau itu bukan milik siapasiapa. Istilahnya kita gagal menambah pulau, namun  tak kehilangan. Makanya dirinya membantah diplomasi kita  lemah, karena kekuatan diplomasi negara tergantung pada politik luar negeri RI.

Di acara yang dipandu Prof. Dr. I Nyoman Budiana itu, Ni Wayan Widhiastini mengatakan daya beli masyarakat kita cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari setiap produk mobil baru selalu laris di pasar Indonesia, bahkan pembeli rela antre beberapa bulan.

Untuk memenangkan persaingan kuncinya adalah produk lokal kita harus berkualitas dan penuh inovasi. Tentang ribut-ribut naker asing, ia mengatakan perlunya inisiasi dan merintis kesadaran bahwa saat ini kita sudah berada di MEA, sehingga tak boleh takut.