Seminar Internasional di Undiknas, Cina Miliki ”Guanxi”, Bali Punya Konsep ”Manyamabraya”

09 December 2016. 11:52

UNDIKNAS University terus memberi penguatan atmosfir aka­demik civitas akademikanva. Selasa (6/12) kemarin, Undiknas mengadakan seminar intemasional dengan pembicara Dr. Stephen Grainger, dosen senior di bidang International Busisness and National dari Edith Cowan Universitv. Australia.

Dr. Stephen Grainger memaparkan soal “Strategi Bisnis di Cina’. Seminar dikuti 200 peserta dari mahasiswa kelas intemasional dan mahasiswa FEB Undiknas dibuka Direktur Akademik dan Sistem Informasi Luh Putu Mahyuni Ph.D., CA. Seminar juga dihadiri Konjen Australia Dr. Helena Studder.

Stephen mengungkapkan bisnis di Cina sangat menguntungkan karena warganya bisa diajak berbisnis penuh kekeluargaan asalkan ada kepercayaan. Social capital masyarakat Cina ini disebut guanxi, pas dengan sikap orang Bali yang mengedepankan manyamabraya. Dia mengatakan, modal ini bisa dijadikan social capital penting untuk membangun bisnis dan menjalin kerja sama dengan Cina.

Jika berbisnis dengan pengusaha Eropa, katanya, selalu terikat dengan kontrak. Sedangkan dengan negara Asia Tenggara, termasuk Cina, bisa dengan social capital. Dengan modal kepercayaan, kita bisa mengambil barang terlebih dahulu tanpa kontrak. Kedua, di Cina banyak menghasilkan pengusaha muda. Dengan modal sedikit kita bisa menghasilkan pen- erimaan yang berhpat ganda. Apalagi Cina dikenal sebagai negara yang memiliki penduduk yang banyak serta objek wisata yang banyak bisa dijadikan altematif membuka usaha di Cina. Ditanya mahasiswa bahwa Cina masih banyak memproteksi produk dalam negerinya, Stephen mengatakan tak semuanya benar karena negara ini juga memerlukan sejumlah produk dari luar yang tak mungkin diproteksi.

Direktur Akademik dan Sistem Informasi Undiknas Luh Putu Mahyuni, Ph.D. juga membenarkan kita tak mungkin bersaing dengan Cina yang dikenal mampu mencetak barang massal dengan harga murah. Apalagi, Cina dikenal memproduksi berbagai barang untuk semua nega­ra. Namun ke depan, dia akan mem­produksi barang berkualitas. Kondisi ini harus dimanfaatkan secara baik oleh pengusaha Indonesia dan Bali. Caranya, jangan menjual produk den­gan produk massal seperti Cina. Kita harus menembus pasar barang yang unik. Seperti endek Bali dan produk kerajinan tangan Bali. 'Kuncinya jangan memproduksi produk massal tapi prokduk nasional” ujamya.

Kerja sama dengan Cina sangat menguntungkan karena secara geografis RI dekat dengan Cina, ekspor-impor akan makin padat. Mahyuni mengatakan, Cina kini termasuk pemimpin ekonomi di Asia yang diprediksi bisa menyaingi kemajuan ekonomi AS. Keuntungan kedua. dava beh masyarakat Cina sangat tinggi akibat pertumbuhan ekonomi yang berkembang pesat.

Mahyuni berharap pengusaha Bali bisa menembus pasar intema­sional. Jangan bermain di produk yang kelas menengah, melainkan yang kelas tinggi. Untuk itu, bangunlah budaya kepercayaan untuk berbisnis di Cina.